Lundi 18 juillet 2005 1 18 /07 /Juil /2005 00:00

 

Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka telah menorehkan babakan baru dalam sejarah panjang konflik Aceh. Perundingan damai yang berlangsung selama tujuh bulan, dan ditingkahi kecaman serta hujatan para politisi dan jenderal militer, akhirnya berakhir dengan kemenangan bagi semua pihak. Pihak yang membenci cara-cara kekerasan.

 

 

Keinginan GAM membentuk partai politik lokal yang selama ini menjadi ganjalan, telah diakomodasi Jakarta dengan berbagai rincian teknis yang akan diatur kemudian. Sebaliknya, GAM telah memberikan ‘konsesi’ besar, yaitu pengakuan kedaulatan RI atas wilayah Aceh. Sebuah cita-cita kemerdekaan yang mulia, yang tak bertujuan memerdekakan wilayah atau sejengkal tanah, tetapi memerdekakan orang-orang yang hidup di atasnya. Jauh lebih mulia dari mereka yang semata-mata ingin mempertahankan sejengkal tanah dengan memusnahkan jiwa-jiwa yang hidup di atasnya.

 

 

Dengan partisipasi politik di tingkat lokal, masyarakat Aceh kini bisa mengatur dirinya sendiri dan menentukan masa depan tanpa campur tangan destruktif dari pihak lain. Partisipasi yang konstruktif dari pihak mana pun, tentu dinantikan Aceh yang sudah berabad-abad menjadi kampung global tanpa batas etnik dan agama.

 

 

Keberhasilan di Helsinki tentu patut dirayakan. Tapi sejenak saja. Sebab setelah itu, kerja maha keras menanti di depan mata. Semua pihak—akan kami mulai dari ruang redaksi media ini—berkewajiban mengawal dan menjalankan butir-butir kesepakatan Helsinki agar mewujud dalam kondisi riil di lapangan.

 

 

Sebab, Aceh memiliki catatan panjang kisah kegagalan dan pegkhianatan. Proses damai yang dipupuk di masa CoHA (Perjanjian Penghentian Permusuhan), 9 Desember 2002, harus berantakan karena keduabelah pihak tak bersikap ksatria dalam menjalankan kesepakatan Jenewa. Harga yang dibayar sunggu mahal. Ribuan nyawa tercerabut akibat kebijakan Darurat Militer yang tanpa pertanggungjawaban.

 

 

Diplomasi memang membutuhkan kesabaran. Sementara perang adalah jalan pintas yang menggoda. Karena itu, proses damai harus diberi waktu yang lebih panjang. Proses damai yang baru berlangsung empat bulan (seperti masa CoHA) tak bisa dikatakan gagal sebelum upaya maksimal dilakukan berbagai pihak.

 

 

Sungguh tidak adil, memberi kesempatan Operasi Jaring Merah (Daerah Operasi Militer) selama sepuluh tahun yang terbukti memperburuk situasi, namun hanya memberikan kesempatan selama empat bulan pada proses perdamaian di masa CoHA.

 

 

Demikian pula halnya dengan hasil-hasil dalam perundingan Helsinki kali ini. Beberapa tahapannya akan mengulang apa yang dilakukan di masa CoHA. Ratusan pengamat asing akan datang ke Aceh. Mereka adalah anggota militer dan warga sipil dari Uni Eropa dan negara-negara ASEAN yang datang tanpa senjata, tetapi dengan tekad perdamaian yang membara. Seperti halnya Joint Security Committee (JSC) di masa CoHA, anggota pemantau yang datang tanpa senjata, memang rawan jadi bahan bulan-bulanan.

 

 

Tapi mereka akan tetap datang. Meninggalkan kampung halaman dan keluarga, lalu mempercayakan seutas nyawanya kepada keduabelah pihak yang tengah bertikai. Hanya para pengecut yang melukai mereka yang tak bersenjata. Hanya para pengecut yang menggerakkan dan memobilisasi orang untuk tujuan-tujuan yang akan merusak perdamaian.

 

 

Demi seutas nyawa yang tak ada duanya, janganlah perdamaian ini berujung pada kegagalan. Sebab warga Aceh selalu dirundung cemas di ujung setiap proses damai yang gagal. Sekali lagi, berdamai itu membutuhkan kesabaran. Sungguh tak adil, memberi kesempatan kepada status darurat selama dua tahun yang terbukti tak bisa mengakhiri pemberontakan, tapi hanya akan memberikan kesempatan—misalnya—beberapa bulan saja kepada proses damai yang dihasilkan Helsinki.

 

 

Agar proses damai berjalan sempurna, maka rantai dendam harus diputus. Salah satu cara paling ampuh memutus rantai dendam adalah memberikan keadilan bagi korban atau keluarganya. Dan salah satu cara memberi keadilan adalah dengan menegakkan hukum dan menyeret pelaku kejahatan kemanusiaan ke duli pengadilan.

 

 

Sebab, sejak DOM dicabut, tak ada satu pun kasus kejahatan kemanusiaan di Aceh yang berakhir di pengadilan dan memberi ganjaran setimpal bagi pelaku atau orang yang memerintahkannya. Sebaliknya, orang Aceh justru melihat jenjang karir yang cemerlang, dibangun dari tetesan darah kerabat mereka, baik di masa DOM atau di masa status darurat.

 

 

Hanya dengan cara inilah, rantai dendam yang suatu saat bisa menjadi bahan bakar konflik baru, bisa diretas. Sungguh tidak adil, menghardik orang yang memendam dendam sembari membiarkan pelaku kejahatan menghirup udara bebas, atau menikmati masa pensiun dengan damai. Sebab, membebaskan pelaku kejahatan—apalagi menaikkan pangkatnya—sama dengan mengundang kejahatan lain dalam antrian.

 

 

Kini, kedua pemimpin delegasi telah berjabat tangan. Karena itu, setiap kematian di lapangan yang terjadi setelahnya, menjadi sebuah blunder yang patut dipertanyakan: mati untuk siapa? Dalam rangka apa?

 

 

Sebab, hawa perdamaian sendiri telah ditiup, dan kapak perang telah siap ditanam. Dikubur untuk selamanya dan tak akan pernah ditemukan.

 

 

Karena itu, biarlah Pratu (Infanteri) Andi Prabowo yang tewas dalam kontak tembak di Kemukiman Simpang Kramat, Aceh Utara, Jum’at (15/7) pagi, sebagai korban terakhir. Juga Teungku Azhari Nur, Kepala Polisi GAM Daerah IV Batee Iliek yang tewas di hari yang sama. Bila perlu, mari kita nobatkan kedua nama itu sebagai pahlawan perdamaian. Namanya dipahat dan abadikan sebagai peringatan akan pahitnya jalan kekerasan. [A]

 

Par Atjehku - Publié dans : Press Release
Ecrire un commentaire - Voir les 1 commentaires
Lundi 18 juillet 2005 1 18 /07 /Juil /2005 00:00

Keluarga Cut Nurmala beberapa tahun lalu terpaksa pindah ke daerah pesisir di wilayah Lhoksemawe. Rumahnya di salah satu daerah pegunungan di Aceh Utara yang rawan konflik dibakar TNI, atas tuduhan anaknya terlibat GAM. Namun, 26 Desember 2004 lalu rumah peninggalan orangtuanya yang sempat ditempati Cut Nurmala dan keluarga kembali hancur diterjang tsunami. Akhirnya hingga kini harus tinggal di barak pengungsian.

Satu saat, di beranda sebuah barak pengungsian di wilayah Lhokseumawe tertuduk seorang wanita tua yang sedang menatap kosong ke depan sambil tanganya terus membelai anak perempuan yang tiduran di pangkuanya. Dari raut wajahnya yang kusut dan lusuh dipastikan dia sedang ditimpa masalah besar.

Saat disapa, dengan tersentak dan tatapan tajam Cut Nurmala membalas sapaan, “Waalaikumsalam,” ucapnya dengan nada lirih.

Lalu dengan senyuman keiklasan mempersilakan duduk sambil membangunkan perempuan yang ada di pangkuanya dan bergeser duduk supaya tamunya bisa duduk di dekat tangga tanpa harus membuka sepatu.

Sesaat setelah itu langsung terjadi percakapan tentang suka duka Cut Nurmala, seorang janda yang menjalani kehidupannya di barak pengungsian bersama anak perempuannya yang paling kecil. Namun ketika pertanyaan dari mana asal, Cut Nurmala tiba-tiba terdiam dan mulai terlihat airmata yang jatuh di pipinya.

Setelah hening sejenak, barulah Cut Nurmala menjawab, “Watee tsunami kamoe syit tinggai di gampong nyoe, tapi kamoe tepaksa pinah keuno akibat rumoh awai kajitoet dan sidroe aneuk lon jitimbak le tentra (Waktu tsunami kami memang sudah tinggal di desa ini, tapi kami terpaksa pindah ke sini akibat dulu rumah di bakar dan satu orang anak saya ditembak tentara, “ ujarnya dengan nada lirih .

Dulu, sampai di penghujung tahun 1998 Cut Nurmala bersama suami dan empat orang anaknya masih tinggal di sebuah desa yang terletak di wilayah pegunungan Aceh Utara. Di sana, mayoritas penduduknya bertani. Ketika keadaan masih aman, kehidupan mereka bahagia walaupun suaminya seorang petani yang berpendapatan pas-pasan.

Namun malapetaka mulai menghiasi kehidupan Cut Nurmala ketika TNI/Polri dan GAM sering baku tembak. Sehingga suaminya yang mengalami penyakit jantung harus meninggal saat suatu malam yang tanggal pastinya tidak diingat lagi, akibat terkejut oleh suara tembakan yang beruntun persis di samping rumahnya. Sesaat, Cut Nurmala menghentikan ceritanya sambil menghapus airmata yang mulai membasahi pipinya.

Lalu Cut Nurmala melanjutkan ceritanya. Biasanya pasca-kontak tembak antara GAM dan TNI/Polri para kaum lelaki umumnya kaum muda harus minggat dari desa karena takut terhadap pihak TNI/Polri yang melakukan penyisiran.

Lheueh prang, aneuk muda gampong harus plung dari gampong meu padum uroe, meunyehan euntek pasti jipoh le tentra malah euntek yo teuh sampek jicok le awak nyan, (Kalau sudah kontak tembak anak muda harus lari dari desa untuk beberapa hari, kalau nggak nanti saat TNI/Polri melakukan penyisiran pasti dipukul malah bisa-bisa dibawa aparat),” kata Cut Nurmala.

Inisiatif anak muda minggat dari desa buat beberapa hari usai kontak tembak, hanya untuk menghindari penyisiran yang dilakukan aparat keamanan. Tindakan ini diambil, setelah belajar dari pengalaman pertama kali kontak tembak. Usai kontak tembak yang bermula dari penghadangan yang dilakukan GAM terhadap pasukan TNI yang berpatroli dengan truk reo, ratusan prajurit berdatangan ke lokasi kejadian.

Karena tidak menemukan apa-apa selain tiga jenazah anggota TNI yang tewas, sejumlah tentara itu pun mulai melakukan penembakan ke udara dan mendatangi rumah-rumah penduduk untuk menyuruh kaum laki-laki berkumpul di lapangan.

Setelah terkumpul semua di lapangan, tentara-tentara itu mulai menganiaya para pemuda dengan pukulan-pukulan dan penyiksaan seperti merayap. Sehingga selain mengalami memar dan luka di sekujur tubuhnya, tindakan itu juga menyisakan trauma bagi pemuda desa itu.

Paih kejadian nyan, aneuk keu lhei lon, muka keumong dan bibi jih beukah diteubit darah kareuna dipoh (Saat kejadian itu anak ketiga saya, mukanya bengkak dan bibirnya koyak mengeluarkan darah akibat dipukul TNI)," ungkap Cut Nurmala sedih.

Efek dari semua itu banyak pemuda yang mulai minggat dan pergi untuk mencari kehidupan lebih layak. Menurut Cut Nurmala, anaknya yang ketiga ikut juga minggat dari kampung dan pergi ke Batam untuk mencari pekerjaan.

Berjalan tiga bulan kepergian anak ketiganya, suatu malam Cut Nurmala dikejutkan dengan sekelompok anggota TNI yang mengepung rumahnya. Setelah disuruh keluar semuanya, salah seorang tentara dengan wajah garang langsung menanyakan di mana keberadaan anak ketiganya.

Di mana Syukri sekarang,” ujar Cut Nurmala, menirukan ucapan tentara.
Saya tidak tahu, Pak. Karena sudah tiga bulan tidak ada kabar,” ucap Cut Nurmala.
Kau mau sembunyiin anak kau ya! Tau nggak kalau anak kau GAM,” bentak TNI tersebut sambil menodongkan moncong senjata ke muka Cut Nurmala.

Sesaat setelah itu, Cut Nurmala bersama tiga anaknya digiring ke bawah pohon kelapa yang ada di samping rumah yang dijaga beberapa anggota TNI. Sedangkan beberapa tentara lainnya masuk dan mengeledah rumah.

Penggeledahan rumah berakhir dan tentara itu tidak menemukan apa-apa. Anggota TNI tadi yang berbicara kembali mendatangi Cut Nurmala.

Ini aku peringatkan kalian, dalam limit waktu tiga hari dihitung dari malam ini kalian harus menyerahkan Syukri kepada kami. Kalau tidak, kalian saya tembak semua,” ancam tentara tersebut. Lalu pasukan TNI pun meninggalkan mereka.

Akibat tidak tahu keberadaan Syukri, membuat keluarga Cut Nurmala mulai resah dengan ancaman tersebut.

Sampai tiga hari terlewati ternyata TNI tidak datang lagi. Hal itu membuat Cut Nurmala dan keluarga senang. Namun kesenangan tidak berlangsung lama. Tiga hari berikutnya, pasukan TNI kembali mendatangi rumah Cut Nurmala dengan membawa beberapa buah jerigen bensin.

Kembali pertanyaan yang sama diterima Cut Nurmala, tapi kali ini ancaman bakar rumah.

"Di mana Syukri sekarang,” bentak tentara tersebut.
Kalau tidak mau kasih tahu, kami bakar rumah kalian sekarang,” ancam tentara tersebut sambil memberikan kode kepada kawannya yang memegang jerigen bensin untuk melaksanakan aktifitas pembakaran rumah Cut Nurmala.

Tanpa bisa mencegah dan hanya bisa menangis, Cut Nurmala bersama tiga anaknya menyaksikan si jago merah melalap rumah dan isinya.

Seudeh that lon. Meusapue yang na di dalam rumoh han jibi cok lee (Sedih sekali saya, tidak ada satu pun barang yang boleh dambil dari rumah)," kisah cut Nurmala.

Selain rumah dia, ada juga beberapa rumah lainnya yang dibakar karena diklaim sebagai rumah anggota GAM.

Tanyo pane tatupue dilei, pue beutoi nyan iteuet nyan mandum rumoh GAM, seubab tanyoe buet tajak ublang. Jadipane tatupue sapue masalah nyan (Kita mana tahu kalau rumah yang dibakar milik anggota GAM, sebab kerja kita tiap harinya hanya pergi ke sawah)," kata Cut Nurmala.

Di Pesisir
Setelah tidak punya apa-apa lagi dan demi keselamatan jiwa, Cut Nurmala bersama keluarganya terpaksa pindah ke daerah pesisir Lhoksemawe. Mereka tinggal di rumah panggung tua peninggalan dari orangtuanya.

Tidak berapa lama tinggal sana, dua anak laki-lakinya minta izin pergi untuk bekerja. Di mana anak pertamanya kembali ke kampung asal untuk membantu seseorang yang membuka sebuah warung kopi, sedangkan anak yang kedua pergi menuju Jakarta yang sampai sekarang tidak ada kabar.

Tidak begitu lama, musibah melanda Cut Nurmala kembali. Di mana anak sulungnya ditembak anggota TNI karena dituduh terlibat GAM.

Walaupun bermacam musibah menimpa Cut Nurmala, tapi dia terus semangat menempuh kehidupan bersama anak bungsunya. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan dan biaya pendidikan anaknya, dia terpaksa bekerja membantu para petani tambak yang membutuhkan tenaganya.

Sekian tahun menjalani kehidupan seperti itu, dan putra kedua dan ketiga Cut Nurmala pun tidak pernah ada kabar. Pada Minggu, 26 Desember 2004, tsunami yang merenggut duaratusan ribu nyawa itu, juga menghancurkan kembali rumah dan harta Cut Nurmala. Sehingga, sekarang barak relokasi sementara yang dijadikan istana oleh janda tersebut bersama putri bungsunya.

Adak pih ngeun kamoe peusisa peng jatah jadup si noeng long mantong jeut ijak sikula. Nyankeh nyan jino keinginan paleng rayeuk lon, bah jih jeut ke ureueng carong (Walau dengan kami sisihkan uang jadup yang penting anak perempuan bisa sekolah. Itulah keinginan terbesar saya biar anak saya bisa jadi orang pintar),” kata Cut Nurmala sebelum mengakhiri kisah hidupnya. [asf]

Par Atjehku - Publié dans : Berita
Ecrire un commentaire - Voir les 1 commentaires
Mercredi 13 juillet 2005 3 13 /07 /Juil /2005 00:00
Menghadapi Dialog Helsinki V antara Republik Indonesia dengan Gerakan Acheh Merdeka (GAM), The Olof Palme Internasional Center memprakarsai dan mensponsori Dialog GAM dengan Masyarakat Sipil Acheh II yang berlangsung di Lidingö, Stockholm - Swedia 9 – 10 July 2005. Dari pertemuan ini Masyarakat Sipil Acheh mengeluarkan pernyataan dan rekomendasi sebagai berikut :

A. Acheh Pasca Tsunami

1. Bahwa untuk mengembalikan semangat dan kualitas hidup rakyat Acheh yang terpuruk oleh tragedi tsunami, diperlukan suasana kondusif, damai dan jauh dari berbagai tindakan kekerasan, maka dialog (perundingan) menjadi sebuah keharusan, serta harus menjadi agenda dari semua pihak untuk memberi dukungan terhadap proses tersebut, konteks ini harus menjadi bahagian yang integral dalam proses
rekonstruksi dan recovery Acheh pasca tsunami.

2. Untuk mendukung dialog maka masyarakat sipil Acheh mendesak RI agar segera melakukan gencatan senjata di Acheh untuk memberikan ruang yang maksimal kepada masyarakat baik lokal maupun internasional untuk berpartisipasi penuh dalam proses membangun kembali Acheh pasca tsunami.

3. Meminta kepada semua pihak baik domestik maupun  masyarakat Internasional yang terlibat dalam proses rekonstruksi Acheh untuk melakukan koordinasi dan kerjasama secara intensif dengan masyarakat sipil Acheh dan memberikan prioritas pada bidang pendidikan, kesehatan, anak-anak dan perempuan.

4. Mengutuk penembakan terhadap pekerja kemanusiaan internasional di Acheh, karena itu merupakan tindakan brutal dan tidak beperikemanusian. Oleh sebab itu meminta kepada RI dan GAM agar memberi jaminan perlindungan kepada semua pekerja kemanusiaan di Acheh baik lokal maupun internasional

B. Proses Perdamaian di Acheh

1. Kehidupan yang damai, demokratis dan tegaknya HAM merupakan kehendak dan kebutuhan setiap manusia yang bermartabat dan beradab, selama di Acheh berlangsung konflik hal ini tidak akan terwujud. Karenanya masyarakat sipil Acheh mengharapkan dialog Helsinki antara RI dan GAM harus dapat menghasilkan kesepakatan penghentian konflik, niscaya kehendak dan kebutuhan setiap manusia
bermartabat dan beradab ini juga menjadi kenyataan di Acheh.

2. Menyesalkan suara dan sikap Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANNAS) dan sebagian politisi di Indonesia yang cenderung menolak dialog Helsinki dalam upaya penyelesaian konflik Acheh. Suara dan sikap seperti ini secara nyata bertentangan dengan semangat masyarakat bermartabat dan beradab, sekaligus wujud nyata kebekuan hati nurani mereka terhadap penderitaan rakyat Acheh. Karenanya masyarakat sipil Acheh meminta kepada para pihak yang terlibat dalam perundingan Helsinki untuk mengabaikannya

3. Keterlibatan masyarakat internasional merupakan sesuatu yang lazim di beberapa negara yang terjadi konflik bersenjata, seperti Srilanka, Irlandia Utara, Philipina Selatan, Kosovo, Darfur Sudan dan lain-lain. Berdasarkan fakta ini, masyarakat sipil Acheh mendukung keterlibatan masyarakat internasional untuk menjamin terwujudnya kedamaian, demokrasi dan HAM di Acheh

4. Memberi apresiasi kepada Uni Eropa dan  ASEAN yang telah mengirim utusan mengunjungin Acheh, dan mengharapkan kunjungan itu dapat mendorong aksi konkrit dalam proses penghentian konflik di Acheh.

5. Mendukung Self Government sebagai langkah penyelesaian konflik Acheh.

C. Peranan Masyarakat Sipil Acheh ke Depan
1. Pro aktif dalam upaya penegakan HAM, demokrasi dan perdamaian di Acheh
2. Membangun konsolidasikan dan partisipasi masyarakat sipil Acheh dalam rangka mendorong proses perdamaian dan rekonstruksi Acheh
3. Melakukan pendidikan demokratisasi dan perdamaian bagi masyarakat Acheh
4. Membangun komunikasi dalam rangka menjalin kerjasama dengan seluruh lembaga dan masyarakat sipil baik ditingkat nasional maupun internasional untuk membangun solidaritas bagi Acheh.
5. Mendorong partisipasi perempuan Acheh untuk terlibat aktif dalam proses perdamaian dan rekontruksi Acheh.
6. Mengajak tokoh-tokoh masyarakat Acheh dari berbagai profesi untuk pro aktif dalam mendorong proses perdamaian, penegakan HAM, demokratisasi dan rekonstruksi Acheh pasca tsunami.

Stockholm, 10 Juli 2005
Masyarakat Sipil Acheh
Par Atjehku - Publié dans : Press Release
Ecrire un commentaire - Voir les 0 commentaires
Mercredi 13 juillet 2005 3 13 /07 /Juil /2005 00:00

Kompas
Rabu, 13 Juli, 2005

Laporan : Angelina Maria Donna

Jakarta, Kehadiran Tim Monitoring untuk Aceh dari Uni Eropa dan ASEAN untuk meyakinkan adanya "political will" Indonesia maupun Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menyelesaikan konflik di Aceh. Hal itu diungkapkan Menko Polhukam (Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan) Widodo AS menjawab pertanyaan pers mengenai kehadiran tim itu di Aceh sebelum tercapainya kesepakatan antara RI-GAM di Helsinki.

"Kehadiran mereka juga punya sensitivitas. Tapi, mereka lebih kepada meyakinkan adanya kesungguhan kedua belah pihak untuk menyelesaikan konflik," kata Widodo di kantornya, Rabu (13/7).

Setelah melihat kondisi di lapangan, Tim yakin ada kesungguhan kedua belah pihak untuk menyelesaikan konflik. Tim juga menilai kerja aparat keamanan baik TNI maupun Polri profesional. Menurut Tim, TNI dan Polri memiliki rantai komando yang kuat baik dari pusat maupun daerah.

Penyerahan senjata

Widodo menambahkan selain Uni Eropa, pemerintah Indonesia mengharapkan negara-negara ASEAN dalam tim itu bisa menjadi tuan rumah untuk Tim Monitoring Aceh. Tim ini akan memantau pelaksanaan kesepakatan RI-GAM jika nanti perundingan resmi telah tercapai.

Sementara itu, mengenai pengaturan keamanan, Widodo mengatakan, yang paling penting adalah penyerahan senjata oleh GAM. Setelah itu selesai, baru akan dibicarakan hal-hal teknis lain terkait pengaturan keamanan.

Pasalnya, dengan adanya penyerahan senjata dari GAM, pasukan TNI di Aceh juga akan melakukan penyesuaian. "Kita tidak bisa bicara hal-hal lain sebelum bicara soal penyerahan senjata GAM," demikian Widodo.

Tim Monitoring datang ke Aceh pada Kamis (30/6) lalu. Tim dari Uni Eropa terdiri dari Feith Pieter (ketua delegasi), Kozlowski Tomesz, Hansen Bruno, Wulffaert Stan, Melo Antunes Filipa, Legein Alex, dan Auvinen Juha.

Sedangkan anggota tim dari ASEAN terdiri atas Adnan Haji Othman dari Malaysia, Kamal Vaswani (Singapura), serta Paitoon Sonkaeo (Thailand). Dua orang anggota lainnya berasal dari Crisis Management Intiatif (CMI) selaku fasilitator perundingan damai RI-GAM di Helsinki, Finlandia. Mereka adalah Janko Oksanen dan Juha Christensen. (Prim)

Par Atjehku - Publié dans : Berita
Ecrire un commentaire - Voir les 0 commentaires
Mercredi 13 juillet 2005 3 13 /07 /Juil /2005 00:00
 

Jakarta .Gerakan Aceh Merdeka (GAM) saat ini sedang menyusun materi sebagai persetujuan akhir untuk mengakhiri konflik bersenjata di Nanggroe Aceh Darussalam. Dalam perundingan ini, GAM menyatakan tetap menuntut pemerintahan sendiri dan menolak otonomi khusus.

 

 

Jurubicara GAM di Swedia, Bakhtiar Abdullah, mengatakan GAM menyetujui konsep pemerintahan sendiri dalam kerangka Republik . “Ini dikategorikan menolak status otonomi khusus, yang telah melahirkan pertumpahan darah, korupsi, dan penolakan terhadap hak dasar rakyat Aceh untuk menentukan nasib sendiri,” kata Bakhtiar Abdullah dalam rilis yang diterima acehkita. “GAM mengklarifikasi ketidakakuratan laporan bahwa telah menerima otonomi khusus.”

 

 

Berbicara di Konigstedt, dekat Helsinki, Bakhtiar Abdullah mengatakan, GAM telah berkompromi dengan tidak mengajukan opsi merdeka dalam perundingan Helsinki ini. Kendati demikian, kata Bakhtiar, tidak berarti GAM telah menerima status quo yang dinamakan dengan otonomi khusus. “Karena itu, kenapa kami menawarkan titik kompromi dengan tuntutan pemerintahan sendiri sebagai jalan untuk menyelesaikan konflik Aceh,” kata Bakhtiar.

 

 

GAM, kata Bakhtiar, telah melakukan kompromi yang besar dalam perundingan untuk mewujudkan damai di Aceh. Karena itu, tambah Bakhtiar, GAM ingin melihat langkah kompromi yang dilakukan pemerintah dalam menyelesaikan konflik Aceh secara menyeluruh pascatsunami. Bakhtiar meminta pemerintah untuk menunjukkan hasrat untuk menciptakan damai dengan menerima pemerintahan sendiri yang didasari pada pemilihan umum oleh partai lokal.

 

 

“Apa yang kami ajukan tidak lebih dari hak dasar demokrasi. Di bawah prinsip-prinsip yang dinikmati rakyat di negara demokratis di seluruh dunia. Tidak ada pembatasan tentang siapa yang berhak untuk membuat partai politik, siapa saja yang terlibat di dalamnya dan berapa orang yang menjadi anggota, untuk mendirikan partai,” katanya.

 

 

Bakhtiar Abdullah mengatakan, GAM meminta pemerintah untuk melanjutkan proses reformasi politik dan juga menyadari demokrasi yang benar untuk mengakhiri konflik Aceh. “Dan untuk melanjutkan proses rekonstruksi terhadap Aceh,” lanjutnya. [dzie]

Sumber: Acehkita.com

 

Par Atjehku - Publié dans : Berita
Ecrire un commentaire - Voir les 0 commentaires

Calendrier

Février 2012
L M M J V S D
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29        
<< < > >>

Recherche

Créer un blog gratuit sur over-blog.com - Contact - C.G.U. - Rémunération en droits d'auteur - Signaler un abus